Hanya Punya Kepintaran Itu Sampah

Tadi pagi seperti biasa gue jalan ke Terminal Senen buat naik P20 AC ke kantor. Gue emang suka duduk di paling belakang karena bisa dengan gampang manjangin kaki. Kalo duduk di tengah kaki gue nge-pas banget sama kursi depannya. Maklum deh ya kaki gue panjang, hahaha. Hari ini gue duduk di bangku kedua dari kiri (alias di samping pintu masuk masih ada 1 kursi kosong). Gak lama setelah itu, kenek bus nuntun 1 orang cowo buat duduk pas di samping gue. Abis duduk dia lipet tongkatnya. Ternyata dia tuna netra! Gak lama setelah bus jalan, cowo ini noel gue sambil nunjukin uang 5ribu.




Cowo : Pak, ini uang berapa ya?
Gue : 5ribu mas.
Cowo : Eh maaf, ibu ya? Makasih ya Bu.



Karena ngeliat orang yang begitu asing, dengan cepat langsung gue ajak ngobrol. Karena gue yakin akan ada banyak hal yang bisa gue dapet dari pembicaraan pagi ini.

Beginilah cerita tentang cowo ini.

Namanya Wiratama Imam Atmadja (Mas Wira). Mas Wira ini juga alumni SMA Regina Pacis Bogor (1 almamater sama gue). Waktu SMP dia ikut program akselerasi. Jadi secara umur beda 1 tahun, tapi secara angkatan beda 2 tahun. Bokapnya adalah guru besar di UI dan nyokapnya dokter, tapi udah cerai. Anak pertama dokter, kedua si Mas Wira ini, ketiga dokter, keempat autis.

Dia kuliah di UI ambil prodi farmasi dengan IPK 3.75. Ini termasuk dipaksa orang tua karena sebenernya dia mau ambil DKV. Akhirnya setelah tamat 3.5 tahun dari UI, dia apply scholarship di Aussie. And he got it. Programnya, beberapa tahun di Aussie trus transfer ke Prancis. Di tahun terakhir studinya (di Prancis), ternyata dia kena kanker otak. Awalnya hanya 1 mata yang mulai meredup, lama kelamaan kedua matanya ga bisa ngeliat lagi. Jadi dia baru jadi tuna netra setahun lebih ini. Tapi dia salut dengan Prancis yang menghargai para disability. Akhirnya dia tetap bisa menyelesaikan sarjana keduanya.

BACA:   Hanya Untuk Anda

Setelah itu, dia kembali lagi ke Indo dan tinggal di Sunter. Jadi setiap hari dia dianter supir ke ke Senen. Dari Senen naik P20 ke Lebak Bulus. Dari Lebak Bulus lanjut naik S12 untuk ke tempat les komputer khusus tuna netra. Namanya Mitra Netra. Sebenernya dia bisa dianterin supir sampe ke tempat les, tapi dia pengen ketemu orang-orang, sharing something di bus (contohnya kayak kejadian gue hari ini). Bayangin, setiap hari minimal 2 orang bisa termotivasi dengan cerita kehidupan dia. Belom lagi orang tsb cerita lagi ke beberapa temennya. What a chain of blessings! 🙂

Kembali lagi tentang tempat les. Jadi disana dia bukan cuma sekedar baca melalui tulisan Braille, kalo itu termasuk basic. Yang dia tekuni sekarang sudah untuk program advance. Gue juga ga bisa terlalu kebayang. Jadi komputernya itu bisa mengeluarkan suara, petunjuk-petunjuk untuk tuna netra. Jangan salah, dia tetep bisa Whatsappan dan Facebookan (udah teruji dan memang benar, tadi dia Whatsapp gue kasih alamat email Facebooknya dan juga dia udah approve friend request dari gue). Gue juga bingung gimana dia ngoperasiin itu iPhonenya, dia sentuh kesana kemari trus iPhonenya speaking. Yang gue belum tau, gimana cara dia ngetik chat di Whatsapp 😐

Fyi, dia buta bukan karena masalah pada matanya. Jadi matanya tetap berfungsi normal. Namun masalahnya syaraf di otaknya yang tidak bisa menangkap cahaya. Jadi kalau di operasi pun challengenya masih 50:50. Kanker otak ini disebabkan karena waktu masih kecil (kisaran 6 tahun) dia pernah kecelakaan. Tapi ga langsung diperiksa dengan benar/scanning. Jadi ada penumpukan/gumpalan darah (kurang ngerti juga ini), sehingga syarafnya jadi bermasalah.

BACA:   Cukup

Pertanyaan-pertanyaan penting yang ga boleh ketinggalan.

Gue : Mas, pas dapet kejadian begini apa yang mas pikir?
Wira : Ya, gue harus move on!
Gue : Oya? Langsung begitu? Ga ada saat-saat down?
Wira : Engga. Karena gue mikir buat apa juga gue down? Itu gak menyelesaikan masalah gue.
Gue : Trus sekarang motivasi untuk menjalani hidupnya apa mas?
Wira : For people’s happiness.

Dia mau bisa bermanfaat untuk orang lain. Dulu kepribadiannya jauh banget sama sekarang ini. Bayangin aja, dia pinter abis dan orang kaya. Gampang banget buang-buang duit dan pergi kesana kemari. Sampai akhirnya dia suka mandang orang lain dengan sebelah mata.

“He said, i’m a much-better-person now. Kalo cuma punya kepintaran doang, kepintaran itu sampah! Gak ada gunanya. Yang terpenting itu kepedulian sosial dan juga sense of belonging. Kalau punya kepintaran, kepedulian sosial dan juga sense of belonging itu barulah sempurna. Sense of belonging yang dimaksud dimana bukan cuma tentang barang-barang yang kita miliki. Tapi juga lingkungan sekitar, orang-orang di sekitar yang membutuhkan pertolongan kita.”

Ada beberapa hal yang dia prihatinkan dengan keadaan para disability di Indonesia (termasuk yang ada di tempat lesnya). Ada banyak tuna netra yang tidak mau berkembang menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Hanya berjalan dengan menunduk dan juga meminta belas kasihan orang lain. Tidak mau survive untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang dimaksud gak cuma lebih baik untuk dirinya sendiri namun juga menjadikan kehidupan orang lain lebih baik. Dia pengen banget bisa meng-encourage other disability people to survive to have a better life.

Sekarang ini selain les komputer khusus tuna netra, dia juga ikut beberapa project mengenai HIV dan tuna netra. Pastinya apa yang udah dipelajari selama ini tetep kepake. Berkaitan dengan project HIV, dia bisa membantu dari segi farmasinya. Selain itu dengan ilmu DKV nya dia ikut project untuk pembuatan short movie. Jadi dia bikinin konsep movienya itu. Salah 1 project yang bisa gue inget, dia kerja sama dengan NGO-nya Standard Chartered Bank (ini detailnya gue agak gak mudeng). Salah seorang yang terlibat di project itu adalah Mba Evi Endriany (kurang pasti juga ini namanya). Mba Evi ini sekretaris manajer di Standard Chartered Bank padahal dia blind sejak kecil. Bayangin aja jadi sekretaris di perusahaan besar harus orang yang gesit. And she did it. Hebatnya lagi, Mba Evi ini juga bisa Jerman, Kanton.

BACA:   Apa Kamu Termasuk Orang Yang Tepat Waktu?

*Story ends*

Kalo gue bayangin jadi dia, yang awalnya pinter banget dan juga orang kaya tiba-tiba dapet bencana begitu bisa jadi gue jadi orang yang pemalu, rendah diri, hmm gak bisa gue bayangkan! Gue yakin gak ada yang kebetulan di dunia ini. Gue bersyukur banget pagi ini bisa dipertemukan sama si Mas Wira. Memberi motivasi banget supaya gue selalu semangat menjadi yang lebih baik, gak pantang menyerah dan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain juga tentunya.

Cheer up, Mas Wira. You are so blessed, man!




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *